haha69
haha69
haha69
haha69
haha69
haha69
haha69
Fenomena melempar anjing ke arah buaya dan perlunya menumbuhkan empati

Fenomena melempar anjing ke arah buaya dan perlunya menumbuhkan empati

Read Time:3 Minute, 45 Second

… Dengan seekor anjing yang memiliki kotoran di atasnya, itu tidak berarti kita dapat melakukan sesuatu yang sewenang-wenang, apalagi menjadi kejam.

Bondowoso (ANTARA) – Beberapa pekan terakhir, dunia media sosial dihebohkan dengan ulah tiga pemuda (ditambah satu orang yang merekam video) yang membuang seekor anjing hidup ke danau yang dipenuhi buaya.

Dia menganggap perilaku pemuda itu kejam, karena jika dia benar-benar berniat memberi makan buaya, dan tidak membuang anjing itu saat masih hidup.

Diketahui pelaku merupakan pekerja subkontraktor yang mengerjakan proyek PT Pertamina di Kabupaten Nonukan, Kalimantan Utara. Karena itu, Menteri BUMN Eric Thuhir geram dengan ulah para buruh yang melanggar hukum.

Selain Menteri BUMN, para pegiat hewan juga peduli dengan isu tersebut dan mendukung para pihak agar pelakunya diproses secara hukum.

Para pelaku kemudian diperiksa Polsek Nunukan dan ditetapkan sebagai tersangka setelah petugas Bareskrim menggelar kasus.

Oleh polisi, pelaku dijerat Pasal 302 KUHP dan/atau Pasal 91b Ayat 1 juncto Pasal 66a Ayat 1 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Hewan dan Peternakan . kesehatan.

Meski berstatus tersangka, pelaku tak pernah ditangkap polisi. Dari hasil penyelidikan diketahui bahwa alasan membuang anjing tersebut adalah karena kekesalan pelaku yang dikenal dengan balas dendam terhadap anjing yang memakan jatah makanan pelaku. Anjing itu pernah menjadi hewan peliharaan para pekerja.

Pentingnya empati

Kasus anjing hidup yang dilempar ke sarang buaya, yang viral di media sosial, telah menjadi pelajaran umum dan pengingat akan perlunya mencintai hewan.

Di sisi lain, kasus ini seolah menunjukkan “kepedulian” pelaku terhadap buaya yang membutuhkan makanan. Hanya saja, perbuatan salah justru menunjukkan sikap kejam terhadap anjing.

Perbuatan para pelaku dapat menggambarkan ekspresi dari keyakinan yang dipegang teguh bahwa anjing adalah hewan najis. Namun jangan lupa juga banyak kisah hikmah bahwa melalui anjing justru membawa keselamatan, bahkan surga, bagi seseorang yang menunjukkan kepedulian dan kasih sayang.

Kisah-kisah sufi menceritakan tentang seorang wanita yang hidupnya penuh dengan pesta pora, tetapi Tuhan mengampuni semua dosanya hanya karena perhatian wanita itu terhadap seekor anjing yang hampir mati kehausan. Kemudian wanita itu memberinya minum agar anjing itu menyelamatkan nyawanya.

Kisah yang diabadikan oleh al-Bukhari dalam hadits tersebut menjelaskan bahwa dengan anjing yang mengandung najis, bukan berarti kita boleh berbuat apa saja, apalagi bertindak kasar.

Kisah-kisah yang tidak populer beredar luas di kalangan Islam tradisional, tentang bagaimana seorang ulama yang saleh tidak berani menzalimi hewan, bahkan terhadap semut.

Misalnya, kisah seorang kiai taqi di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, yang rela menghabiskan waktu dan tenaganya untuk membawa kembali seekor semut yang tersangkut di mobilnya untuk sebuah perjalanan.

Pelayan atau pendamping pendeta terkejut ketika guru meminta untuk dibawa kembali ke suatu tempat ketika dia berhenti dalam perjalanan pulang untuk buang air.

Surat ulama kepada Khaddam berbunyi, “Saya ingin membawa kembali semut ini agar bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Jika Anda memiliki anak, mungkin anak-anak akan bingung mencari ibunya.”

Ketika mempertimbangkan situasi pelemparan anjing, lingkungan keluarga harus menanamkan empati pada anak sejak dini.

Terhadap anjing atau hewan lain, bahkan tumbuhan juga, kita harus menunjukkan simpati agar tidak berbuat seenaknya.

Hewan dan tumbuhan sama-sama diciptakan oleh Tuhan, dan pemeliharaannya telah dipercayakan kepada manusia oleh Sang Pencipta. Bukan malah menyiksa.

Selain masalah empati yang melatih anak atau seseorang untuk memiliki hati yang lembut, tindakan kasar terhadap hewan dapat memiliki konsekuensi hukum yang mungkin belum banyak diketahui orang hingga saat ini.

Andai saja para penembak anjing itu mengetahui dan memahami bahwa kekejaman—tidak hanya terhadap manusia—dapat ditindak oleh aparat penegak hukum, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Setidaknya satu atau lebih dari mereka akan memperingatkan atau mencegah kecelakaan, terutama jika direkam dalam video.

Oleh karena itu, tindakan penyidikan dan penyidikan kasus pada saat yang sama oleh polisi memiliki manfaat ganda. Langkah yang dilakukan Polres Nunukan di satu sisi untuk penegakan hukum, di sisi lain juga mengajarkan masyarakat untuk tidak berlaku tidak adil terhadap hewan. Hewan juga memiliki hak untuk hidup dan sejahtera.

Jika polisi tidak mengambil tindakan hukum terhadap pelaku kasus ini, penyebaran video anjing melempar semacam pelajaran kelompok yang dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang secara sewenang-wenang. Oleh karena itu, jika banyak pihak mendesak untuk dilakukannya tindakan hukum terhadap pelakunya, bukan sekedar tindakan “pembalasan” terhadap pelaku.

Oleh karena itu, masyarakat berterima kasih kepada sejumlah pihak yang memperhatikan kasus ini, khususnya pihak kepolisian di Polres Nunukan yang bertindak cepat, sehingga diharapkan kasus serupa tidak terulang di kemudian hari. Dengan perhatian Menteri BUMN dan tindakan kepolisian, hal ini menunjukkan bahwa negara hadir untuk mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat.

Hak Cipta © Bean 2023

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Kartu SIM seluler tersedia di lima lokasi di Jakarta Previous post Kartu SIM seluler tersedia di lima lokasi di Jakarta
Gubernur NTB mengunjungi dua calon presiden, Ganjar Pranowo dan TGB Next post Gubernur NTB mengunjungi dua calon presiden, Ganjar Pranowo dan TGB